Kontraktor Kubah Masjid di Serang Banten

Kontraktor Kubah Masjid di Serang Banten

Kontraktor Kubah Masjid di Serang Banten

Setiap orang memiliki keinginan memiliki sesuatu yang mereka sukai. Entah berupa keinginan cita-cita kelak, keinginan memiliki sebuah benda, dan keinginan memiliki sebuah tempat. Namun, keinginan setiap orang tidaklah harus tercapai. Pepatah mengatakan gantunglah cita-cita setinggi langit. Seperti tingginya langitnya secara nyata itu pulalah keinginan yang harus kita inginkan. Tak semua orang yang bercita-cita itu menelusurinya dengan jalan yang lurus. Kadang orang berkeinginan juga menerima suatu kegagalan. Tinggal bagaimana saja setiap orang menghadapi sebuah kegagalan apa yang diinginkannya tersebut. Semisalnya seseorang berkeinginan menjadi seorang kontraktor kubah masjid, karena dia sudah terbiasa dan mengerti ilmu menjadi seorang kontraktor. Akan berbeda cerita lagi jika dia berkeinginan tetapi dia tidak mengerti ilmu menjadi seorang kontraktor. Hanya bagaimana seseorang mempertahankan keinginannya walaupun harus jatuh bangun.

Cerita dari pengalaman bapak Adi Lesmana yang tinggal di kota Serang Banten. Beliau saat ini menjadi salah satu seorang kontraktor kubah masjid terkenal di kota Serang. Sudah sekitar kurang lebih lima tahun bapak Adi Lesmana mengeluti pekerjaannya. Bapak Adi Lesmana berkeinginan menjadi seorang kontraktor sudah sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Keinginan tersebut bermula ketika bapak Adi berangkat sekolah sekolah melewati jalan pintas yakni jalan Melati, biasanya berangkat sekolah melewati jalan Mawar. Pada hari itu, beliau melewati jalan pintas karena jalan Mawar ditutup akibat ada acara kegiatan masyarakat. Di jalan Melati inilah, rumah seorang kontraktor kubah masjid berada. Rumah bercat kuning yang megah, mobil mewah terparkir depan rumah, dan depan rumah sebelah kiri terdapat sebuah ruangan yang bertuliskan kontraktor kubah masjid bapak Ningrat. Sejak itulah bapak Adi Lesmana ingin menjadi seorang kontraktor. Saat itu bapak Adi sempat menghentikan sepeda balapnya sebentar untuk mengobati rasa penasaran dengan pekerjaan yang baru ia ketahui tersebut.

Dengan keinginan dan tekat yang keras, bapak Adi lulus SMA berkeinginan langsung belajar ilmu kontraktor dari seorang temannya, yang kebetulah dia adalah anak kontraktor juga. Temannya menyarankan bekerja sama dengannya menjadi seorang kontraktor bangunan rumah rusun. Namun, bapak Adi harus membayar terlebih dahulu sebesar 500 juta. Dengan usia yang masih muda dan anak dari keluarga pas-pasan bapak Adi tak bisa memenuhi syarat dari temannya tersebut. Akhirnya beliau menolak permintaan kerja sama temannya.

Tidak berhenti disitu saja bapak Adi tetap kukuh ingin menjadi seorang kontraktor. Keesokan harinya beliau pergi kejalan Melati rumah bapak Ningrat. Kebetulan disana membutuhkan staf administrasi, bapak Adi langsung melamar dan diterima. Bekerja sambil belajar sedikit demi sedikit akhirnya beliau mengerti ilmu kontraktor. Hingga pada suatu hari beliau bisa mendirikan sendiri sebuah kantor kontraktor kubah masjid.