Ia Lupa Bagaimana Seharusnya Menjadi Lelaki

Pukul dua belas siang ini keretaku berangkat, mungkin kau tidak akan pernah sadar siapa yang benar-benar pergi meninggalkan di antara kami. Apa yang lebih pelik dari kisah sepasang yang tidak sepasang lagi? Apa yang lebih pahit daripada berjuang sendiri? Dan apa yang paling rela daripada ia yang menyimpan harapan di dalam doa? Ini bukan kisah bahagia ataupun sedih, perjalanan dan perjuangan yang kehilangan makna dari apa yang diperjuangkan.

Benar-benar ini sangatlah dekat dengan maksud, sedekat Solo serta Jogja. Serta berhenti tidak semudah mulai. Perlu saat. Tahukah kau? Di waktu patah hati, kita dapat jadi lebih produktif. Lakukan beberapa hal baik serta mengasyikkan serta lebih memerhatikan serta mensyukuri beberapa hal kecil di sekitar kita yang belum juga sempat kita sadari terlebih dulu. Patah hati itu di nikmati, tiap-tiap inci goresannya.

Kata Jalaludin Rumi, obat dari rasa sakit itu yaitu rasa sakit tersebut. Tidak perduli seberapa lama pulihnya, terima fakta yaitu jawabannya. Saya telah pada titik di mana terima dengan utuh yaitu sebenar-benarnya sikap. Saya mengerti kalau setia pada seorang yang salah hanya satu pembelaan serta lambang kekurangan. Seperti kata Sudjiwo Tedjo, ” menikah itu keberuntungan, menyukai itu kehormatan “.

Apakah kehormatan tersebut mungkin saja tidak ada yang tentu tahu. Bagiku, menyukai sosok yang mempunyai kepribadian serta harga diri tambah lebih perlu. Bagaimana dapat ia sharing ranjang dengan orang yang lain? Sedang saya sharing masa depanku padanya. Bagaimana dapat mereka dengan bangganya tunjukkan lekuk badan serta kemesraan pada dunia?

Sedang saya mati-matian melindungi pandangan, langkah, serta sikapku untuk martabat serta etika? Serta apa yang lebih pahit dari pada fakta telah tidak disayangi sekali lagi? Mungkin saja ia lupa bagaimana semestinya jadi lelaki. Atau mungkin saja ia memanglah tidak layak untuk seseorang wanita. Kata beberapa orang di sekitarku. Apapun, dulunya itu tetaplah pilihanku. Mungkin saja saya mesti mulai jatuh cinta pada sosok yang saya tidak tahu siapa, yang juga akan menjemputku nantinya.

Serta saya mesti dapat merampungkan apa yang perlu saya kerjakan, membahagiakan siapa yang perlu saya bahagiakan.

Agar saat yang menjawab.